Nganterin gebetan pulang. (Kisah Romantis)

Seperti halnya laki-laki di dunia yang sedang nge-gebet cewek, biasanya target pertama yang pria ambil adalah, “Suatu saat saya harus bisa nganterin wanita cantik itu pulang.”

Suatu hari, hasil dari pengharapan berbulan-bulan, akhirnya cewek yang saya gebet mau dianterin pulang. Berhubung saya bukan cowok bermobil, jadi saya sangat bersyukur kalo dia mau dianteriin pulang pake sepeda motor. Tentunya berjingkrak-jingkrak dong, “Ahaa… hari ini saya mau bonceng dia, nganterin dia pulang”. Ekspresi kegirangan yang luar biasa, rasanya seperti ingin lari ke kamar mandi, teriak teriak, loncat loncat, dan ngacak ngacak toilet.

Pada saatnya, saya sudah standby di kantornya di atas sepeda motor lengkap dengan dua buah helm yang salah satunya untuk dia pakai. Lalu wanita cantik itu datang menghampiri dengan hembusan angin yang membuat rambutnya melambai-lambai.

“Yuk, saya antirin pulang. Ini helm buat kamu, pake yaa, saya ingin nganterin kamu selamat sampai tujuan. Setidaknya kalopun gak selamat, kepala dan muka kamu yang cantik tetep utuh.” ucap saya dengan wajah tampak gak jelas antara kegirangan dan salah tingkah.

Dan perlahan wanita cantik itu naik motor saya di belakang. Ngangkang perlahan seperti kucing yang mau pipis ketika mau naik jok motor. Semuanya seperti gerakan lambat. dannn.. ketika tinggal 1 cm lagi pantat dia mulai duduk di atas motor, dia loncat gak jadi naik.

“Ihh.. Joknya kotor banyak debu. Makanya cuci dong kalo punya motor tuh..!!” teriaknya.

Satu hal yang paling penting anda lakukan adalah, cucilah sepeda motor anda ketika ingin membonceng gebetan anda..!! Untungnya hal itu tidak membuat rencana ngaterin dia pulang batal. Meski dia harus ngambil tissue dulu dari dalam tasnya untuk ngelap jok sepada motor bagian belakang.

Buat seorang cowok yang ternyata harapan nganterin cewek pujaannya pulang terkabul, ngobrol berdua di jalan raya sambil boncengan itu seperti jadi pilot pesawat yang disebelahnya didampingi pramugari cantik, melihat pemandangan dari udara melalui jendela. Menatap berdua sekumpulan awan yang berbentuk hati dengan inisial nama kita. Lalu pesawat yang kita kendarai menerobos awan itu dan membetuk panah asmara yang menancap di hati.

Lalu cuaca buruk datang, hujan mendadak turun, pesawatpun harus mendarat. Berhubung saya gak persiapan bawa jas hujan, saya harus menepi. Inilah gak enaknya pake sepeda motor. Kita pun berhenti di tengah perjalanan untuk berteduh di pinggir jalan di daerah jalan Jamika Bandung. Sempat terlintas di pikiran saya, kita berdua berteduh disaat hujan deras, berdua di pinggir jalan, ini bisa jadi saat-saat yang romantis.

“Aduh, hujannya lumayan lebat yaa..” kata saya mencoba membuka pembicaraan ketika berteduh. berharap ini adalah pembuka dari suasana romantis.

“Iya.” jawabnya.

“oiyaa.. gak apa-apa kan kalo kita nunggu hujan reda dulu? dari pada hujan-hujanan nanti sakit lagi. oh atau kamu mau lanjut pake angkot aja? supaya gak keujanan.” ucap saya berusaha menjadi gentleman yang nunjukin perhatiannya buat dia.

Lalu dengan cepat dia menjawab, “Ohh ya udah kalo gitu yahh, aku naik angkot aja.” Sambil dia melambaikan tangannya ke angkot yang sedang melaintas. “Aku duluan yaa…” ucapnya sambil dia lari menuju angkot.

Dan saya meromantiskan diri sendirian di pinggir jalan. Gagal Romantis

Kenyataan yang ada. Antara Pria dan Wanita

Ketika pria pergi ke toilet, tentunya pria pergi dengan satu alasan, yaitu buang air. Tetapi bagi wanita, toilet itu seperti tempat bersosial dan ruang terapi. Para wanita yang tidak saling kenal dan bertemu di dalam toilet, bisa jadi sekeluarnya dari sana mereka jadi seorang sahabat abadi yang akur sepanjang umur. Tetapi semua orang pasti langsung memasang wajah curiga ketika ada seorang pria berseru, “Hey Andy, saya mau ke toilet. Kamu mau ikut?”

Pria suka mendominasi remote control TV dan menggonta-ganti saluran. Sedangkan wanita tidak keberatan menonton tayangan iklan. Ketika dalam masalah, pria minum minuman keras dan pergi keluar, sedangkan wanita memilih makan cokelat dan berbelanja.

Wanita mengkritik para pria karena ketidakpekaannya, ketidakerduliannya, sikap mereka yang tidak pernah menyimak, tidak hangan, tidak penuh kasih sayang, tidak berbicara, tidak cukup memberikan kasih sayang, tidak bertanggung jawab atas hubungan, lebih menginginkan persetubuhan daripada bercinta, dan membiarkan tutup toilet terbuka ke atas.

Pria mengkritik para wanita tentang kemampuan mengemudi mereka, tidak mampu membaca marka jalan, menjungkirbalikan peta, tidak peka membaca arah jalan, terlalu banyak bicara tanpa ada intinya, jarang berinisiatif dalam bercinta, dan membiarkan tutup toilet ke bawah.

Walaupun pria tidak pernah mampu menemukan sepasang kaus kaki, tetapi wanita bisa menyusun celana dalam berdasarkan abjad.

Pria mengagumi kemampuan wanita yang ketika memasuki ruangan yang penuh dengan orang, maka wanita dapat dengan seketika memberikan komentar tentang semua orang yang ada di ruangan itu. Tapi wanita heran, kenapa pria tidak mau ambil perduli tentang itu. Para pria terheran-heran kenapa wanita tidak mampu melihat lampu berwarna merah di dashboard mobil tanda persediaan oli, tapi dapat menemukan kaus kaki tang tersembungi di sudut gelap berjarak 50 meter. Sedangkan wanita bingung kenapa pria selalu mampu memarkirkan mobil secara paraler (mundur) di sela-sela yang sangat sempit sekalipun hanya dengan bantuan kaca spion, tetapi tidak pernah menemukan G-Spot mereka.

Jika seorang wanita mengemudikan mobil dan tersesat, dia akan berhenti dan menanyakan arah. Tetapi bagi seorang pria, itu merupakan tanda kelemahan. Ia lebih memilih terus mengemudi berputar-putar berjam-jam, sambil ngomel, “Saya sudah tau jalan mana yang benar.” atau, “Hey,  saya pernah liat pom bensin itu.”

(Thank to Allan and Barbara Pease)

Terima kasih Kadin Jabar

Pertengahan bulan Desember 2010, itu kali pertama saya dapat panggilan untuk tes sebagai staf di Kadin Jabar. Pada waktu itu saya dapet telepon dari nomer 02287241321 dan kebetulan pada saat itu saya gak bisa angkat teleponnya. Beberapa jam kemudian, saya coba telepon balik nomor tersebut, dan ternyata gak bisa di telepon, nada fax yang keluar. Iseng demi iseng saya cari di google, sapa tau keluar itu nomor siapa, dan ternyata itu adalah kantor Kadin Jabar.

Saya baru ingat, sekitar sebulan sebelumnya saya pernah apply lamaran kerja ke sana. Kakak saya lah yang memberi informasi tentang adanya lowongan di Kadin Jabar. “Bay.. ngelamar gih ke Kadin, liat infonya di website.” kata kakak saya. Sebenarnya saya sedikit bingung, “apa? Kadin? apaan tuh?” saya bingung karena emang gak tau apa itu Kadin, Kepala Dinas mungkin pikir saya. Tapi ya sudah lah saya coba masukin lamaran aja lewat email.

Setelah mengetahui kalo itu no tlp kadin, saya coba telepon ke nomor lain yang tertera di websitenya. Dapetlah nomor 02287241322. Ketika di telepon balik dan benar saja, ada undangan interview disana. saya lupa harinya. Saya disuruh hadir pukul 09.00 di Surapati Core dan bertemu dengan Ibu Ane.

Ketia saya datang keesokan harinya untuk interview, masuk ke lobby kantornya, dan menuju front office. “Selamat pagi bu, saya ada undangan interview hari ini, disuruh ketemu dengan ibu Ane”, saya bilang ke Frontliner nya. Dia keliatan sedikit bingung, “Ibu Ane? Ibu Ena sepertinya. Silahkan pak ditunggu.” katanya. Waduh.. ternyata saya salah denger, yang bener itu ketemu sama ibu Ena, bukan Ane. Saya sedikit menyesal karena namanya lebih keren Ane daripada Ena. :)

Setelah mengukuti tes hari itu, dan dijanjikan akan dihubungi kembali beberapa hari kedepan untuk tes berikutnya, saya masih gak habis pikir, kenapa harus Ena? kenapa gak Ane aja karena lebih gaya.

Beberapa hari kemudian, ada telepon lagi dari no kantor Kadin Jabar, kali ini saya angkat. “Halo, dengan bapak Bayu Lubihardi?”, kata seorang cewek diseberang sana, saya pun meng-iyakan. “Cuma mau menanyakan, apakah bapak bisa mengemudikan mobil?” lanjutnya. yaa saya jawab “bisa”. Lalu wanita disana melanjutkan lagi, “Baik pak jika begitu, terima kasih.” dan telepon langsung tertutup. Lho…? aneh sebetulnya, dihubungi cuma nanya itu doang.

Alhasil, saya lolos dan berhasil masuk menjadi salah satu pegawai disana. Hari pertama masuk kantor, pagi-pagi saya disuruh tunggu dulu di lobi, gak jauh dari tempatnya frontliner. Di meja frontliner itu cuma ada seorang ibu, ohh mungkin dia yang kemaren2 telepon saya. Karena saya seorang mentalist yang ahli membaca orang lain, saya coba menerawang… , ibu itu mungkin usianya sekitar 26 tahun, sudah berkeluarga dan memiliki seorang anak. sebagai seorang mentalist handal, saya yakin prediksi saya jitu mengenai itu. Tapi setelah beberapa hari kerja disitu, ternyata ibu2 di meja depan itu baru merayakan ulang tahun ke 20, dan belum menikah. Saya salah memprediksi? Itu bukan salah saya, itu salah muka dia yang boros. haha.. Namanya Ratna.

Ternyata bukan hanya saya pegawai baru disana, ada satu orang lagi. Namanya Apudin, dia lulusan UPI juga. Dan sebagai seorang mentalist yang hebat, kembali saya coba terawang dia. Dia pasti sudah menikah karena kerena kelihatan tua, dia memiliki bakat sebagai penerang dalam kegelapan karena kepalanya yang sedikit lapang. Kali ini prediksi saya hampir sempurna, semuanya benar, kecuali, dia belum menikah. Payah.. haha.

Di kantor Kadin Jabar, ada dua orang yang bernama Titin. Pada masanya mungkin banyak orang tua dulu senang memberi anak perempuannya dengan nama itu.

Sebagai pegawai baru, tentunya kesulitan menghafal nama pegawai2 disana. beberapa kali saya kebalik menyebutkan nama mereka. Sebenarnya bukan salah saya, nama pegawai2 disana namanya mirip semua. Dini, Dewi, Fini, ketinyanya tampak serupa dengan akhiran “i”. Belum lagi 2 orang yang namanya Titin. Dan yang paling mengerikan, akhirnya saya ditunjuk untuk mendukung kerja dari Ibu Ena, galak ternyata ibu yang satu itu. Mungkin kalo namanya Ane bakalan jauh lebih baik. Setidaknya gaya. :)

Ada beberapa orang lagi disana, bapak Agus, pak erdi, mas karyono (dia orang batak lho), pak nana, ibu tiara, dan tentunya direktur eksekutif bapak dinar.

Tidak seperti di kantor lain, disini orang-orang bisa ngakak sejadi-jadinya. Bujangan atau gadis yang bekerja disini akan menjadi cepat “matang”. Saya suka dengan sistem karbitan seperti ini, kita dibekali tips and trik agar cepat matang, yang setadinya tidak tahu menjadi tahu. Bekerja disini membuat bujangan atau gadis menjadi gak kuat pengen cepet cepet kawin. :)

Di Kadin Jabar, saya berkarib dengan Apud, pegawai satu angkatan dengan saya. Bukan karena kita memiliki keterkaitan batin, yaa tapi emang gak ada lagi cowok yang seumuran. Bahkan apud pun sebenarnya gak seumuran, tentunya dia jeuh lebih tua, tapi gak apa2 deh, saya merelakan diri bersohib dengan dia. Apud itu sebenarnya datang ke Kadin sebagai Ustad, baik bertutur kata, rajin sholat, mengajinya hebat, dan puasa. Tapi apa daya, lingkungan telah membuatnya menjadi “matang” dan jadi suka ikut2an ngrobrolin hal yang “matang”. (istilah ini sepertinya hanya orang2 kadin yang mengerti haha). Saya pernah nginep di kosannya, satu hal yang hingga saat ini saya tidak mengerti, kenapa Cover Bed kasur di kosannya apud itu bergambar buah strowbery???? Jujur, saya sempat ketakutan ketika nginep dan tidur satu kasur dengannya disana. Keringat dingin.

Disini kita seluruh pegawai satu kantor itu seperti sudah keluarga, tidak terdapat blok pemisah antara bawahan dan atasan. Pegawai baru seperti saya dan apud pun tidak diperlakukan semena2 oleh pegawai2 lama disana. Kita diterima dengan baik.

Satu tahun lebih berjalan, hingga sekarang saya menulis ini, saya memutuskan untuk resign dari Kadin Jabar yang telah memberi banyak pelajaran berharga buat saya. Bukan karena saya tidak betah kerja disana, tapi ada suatu keharusan untuk saya resign. Bukan karena orang lain, saya memutuskan ini untuk diri saya sendiri. Saya pikir akan lebih baik jika saat ini saya resign dan tidak berada disana lagi. Ada beberapa alasan pribadi, dan saya tidak bisa menjelaskan semuanya.

Kadin jabar telah memberikan pengalaman yang luar biasa untuk saya, dari mulai ketawa sengakak2nya, dimarahin orang, ngeledikin orang, dari mulai bahagia, marah, sampai sedih. Kadin Jabar sudah memberi semua pengalaman yang berharga.

Saya sangat berterima kasih untuk Direktur eksekutif Bapak Ahmad Dinar, yang telah memberikan saya kesempatan bekerja disana. Ibu Titin Hertin sebagai pegawai paling senior disana yang sudah seperti ibu sendiri, Ibu Ena Rohaena yang sering memberikan saya petuah, Ibu Tiara Artika yang sering menjadi partner ketika ada acara kantor, Ibu Dini Ramadhani yang baik sudah beliin saya nasi goreng dirumahnya, Ibu Dewi Djuani yang walaupun sering marah2 tapi sebenarnya baik banget, Ibu Fini Muchin yang suka menjadi temen “Rapat” di ruang OB, Ibu Titin Resmiati yang suka beliin saya bubur ayam, Pak Agus Saepuloh yang suka barengan godain Ica, Mas Karyono yang udah sering saya suruh2, Ratna Setiani yang sering saya repotin minta ini dan itu, Marisa Hartanti yang udah mau jadi korban hipnotis saya, Firman Alamsyah yang suka menjadi tumbal ketika saya gak angkat telepon dari pak dinar, Pak Nana yang udah nganter saya kesana kemari. Terima Kasih Banyak. Kalian semua bukan hanya orang yang pernah singgah di hati saya, tetapi akan selalu ada disana.

Oh iya, hampir ketinggalan, Terima Kasih juga buat Apudin, meskipun sudah saya ledek dari ujung kepala sampe ujung kaki, dia tetep menjadi sosok yang dewasa buat saya.

Terima Kasih Kadin Jabar.

PS: Ketika menulis ini, Ibu Dewi Djuani sedang dalam keadaan sakit. Moga cepet sembuh ya bu..

PS 2 : Buat almarhumah kakak saya, Asty Purwati, dimanapun eteh ada sekarang, yang udah ngasih tau informasi mengenai lowongan kerja di Kadin dan akhirnya saya berhasil lolos tes jadi pegawai disana, saya mau bilang terima kasih dan maaf saya harus resign dari sana. Saya gak akan mengecewakan eteh, saya pasti bisa lebih baik lagi.